PEMIRA 2019: Ajang Pemilihan yang Masih Harus Berbenah

Browse By

 

Pasangan calon nomor urut 1 Ardy-Fauzan sedang menyampaikan visi misinya. Foto: Endah/TB

Pasangan calon nomor urut 2 Fairuz-Rizal sedang menyampaikan visi misinya. Foto: Endah/TB

Tegalboto – Minggu pagi (14/04) ada yang berbeda di lapangan parkir Gedung Soetardjo yang biasanya lengang.  Di tengah alunan musik aerobik, puluhan orang tampak mengikuti arahan seorang instruktur senam yang berdiri di atas panggung.  Sekilas acara yang dimulai sejak pukul 06.30 pagi itu terlihat seperti Car Free Day (CFD) atau mungkin sekadar acara senam pagi.  Namun, jika diperhatikan dengan seksama, banner yang terpasang di atas panggung tertulis ‘Kampanye Akbar Pemilihan Umum Raya 2019’  Ya, pagi itu, sedang dilaksanakan kampanye akbar oleh Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Universitas (KPUM-U).

Sebagaimana dipaparkan oleh Rafi Muhammad selaku ketua KPUM-U, “Pertama kita hadirkan senam bersama, untuk menarik minat dari semua warga di lingkungan Universitas Jember.”

Pagi itu, beberapa pejalan kaki maupun pedagang kaki lima akhirnya merapat ke sana.  Ditambah dengan iming-iming doorprize yang dibagikan secara gratis, acara tersebut akhirnya berlangsung cukup meriah awalnya.  Baik itu mahasiswa ataupun bukan, ikut terlarut dalam senam pagi hari tersebut.  Sebelum senam, terdapat pula sambutan dari Dulkhalim, S.H., M.H. selaku Biro I Universitas Jember.

Menarik untuk disimak bahwa selepas kampanye akbar yang digelar di tempat terbuka itu, para kandidat―baik itu calon eksekutif maupun legislatif―dapat melakukan kegiatan kampanye hingga Pemilu Raya (PEMIRA) 2019 dilaksanakan.  Hal tersebut ditegaskan oleh Rafi bahwa tujuan utama dari serangkaian acara Minggu pagi itu adalah untuk membuka masa kampanye PEMIRA 2019. Ia juga mengatakan bahwa warga Universitas Jember tidak perlu khawatir karena setiap informasi akan dibagikan melalui akun instagram KPUM-U, yaitu @kpum_unej.

Dalam acara yang berlangsung hingga pukul 13.00 itu terdapat dua pasang calon ketua dan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) yang menyampaikan visi misinya.  Mereka adalah pasangan nomor urut 1, Ardy-Fauzan dan pasangan nomor urut 2, Fairuz-Rizal.  Keduanya mengangkat visi yang tidak jauh berbeda, yaitu seputar profesionalitas BEM.  Sementara, dalam poin misi, terdapat beberapa perbedaan untuk mencapai visi mereka masing-masing.

Disamping itu, terdapat pula 6 calon legislatif Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) yang turut menyampaikan visi misinya.  Mereka adalah perwakilan dari beberapa fakultas yang mengajukan diri kepada KPUM-U.  Setelah melalui proses verifikasi yang telah ditentukan, mereka dinyatakan lolos serta mampu menjadi calon legislatif untuk BPM.

Sayangnya, acara justru semakin sepi ketika pasangan calon ketua dan wakil ketua BEM-U menyampaikan visi misinya.  Kondisi lapangan yang cukup terik juga memaksa beberapa orang yang hadir saat itu untuk menjauh dan berteduh.  Meski begitu, kedua pasangan calon tetap menyampaikan visi misinya di atas panggung.

Mahasiswa yang hadir kampanye akbar dapat dihitung dengan jari. Foto: Endah/TB

Rini Fatmasari sebagai salah satu mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang turut hadir saat itu mengaku bahwa ia hanya ingin menyaksikan calon legislatif dari fakultasnya.  Sementara itu, untuk kandidat ketua dan wakil ketua BEM-U ia tidak tahu menahu, dan berharap dapat lebih memahami visi misinya.

Lain halnya dengan Putri Arasy yang saat itu tidak sengaja hadir di acara tersebut untuk membeli makanan.  “Niatnya cari makan, ternyata CFD depan (gedung) pasca tutup.” Papar putri.  Ia melihat acara saat itu cukup ramai dan meriah, namun ia sendiri tidak terlalu memperhatikan acara yang bertujuan mengenalkan para kandidat PEMIRA 2019 tersebut.

Ketika kami sampaikan hal tersebut kepada Rafi, ia berpendapat bahwa wajar saja jika masih banyak yang belum mengenal kandidat PEMIRA 2019 ini.  “Seperti yang sudah disampaikan tadi, (untuk pengenalannya) itu memang kita jadwalkan pada saat kampanye akbar ini.” papar Rafi.  Ia juga menyadari bahwa memang sudah tugas KPUM untuk menjadi fasilitator PEMIRA.

Refleksi Pemilihan Umum Raya

Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) tahun ini adalah yang kedua kalinya di Universitas Jember.  Sebelumnya acara tersebut juga dilaksanakan serentak di setiap fakultas pada kamis (02/11/2017) untuk memilih kepengurusan yang sedang menjabat  sebelumnya baik itu eksekutif maupun legislatif.  Beragam respon telah dilontarkan terkait PEMIRA periode yang lalu.  Sebagian merasa acara yang diselenggarakan kurang memuaskan, namun sebagian yang lain merasa tertarik.

Seperti yang terjadi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang memiliki antusias cukup besar pada PEMIRA tahun lalu.  Melansir dari persmanifest.com (03/11/2017) Moh. Musta’anul Khusni selaku ketua KPUM sebelumnya, mengakui bahwa pelaksanaan pemilihan melalui Tempat Pemungutan Suara Elektronik (E-TPS) masih terkendala minimnya perangkat komputer.  “Tadi di FKIP, antusias mahasiswanya luar biasa, namun perangkat yang bisa digunakan hanya 5 sehingga terjadi antrean panjang, akhirnya banyak yang meninggalkan E-TPS.” Jelasnya.

Dalam wilayah Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) sendiri, Shumini Ayu salah satu mahasiswa yang ikut berpartisipasi dalam PEMIRA memaparkan bahwa suatu kebanggaan tersendiri bisa melakukan pemilu elektronik.  “Cukup antusias, soalnya ini pengalaman pertama melakukan elektronik voting.”  Jelas Shumini.

Lain halnya dengan yang terjadi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB).  Pelaksanaan PEMIRA kurang mendapatkan antusiasme dari mahasiswa.  Bahkan, Aliansi Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) FIB secara gamblang menyatakan penolakan terhadap adanya BEM dan BPM.  Sebagaimana yang pernah kami tulis dalam ‘Mahasiswa FIB Menolak BEM’, mereka merasa kontribusi BEM kurang bisa dirasakan.

Dengan segudang catatan di atas, ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah bagi KPUM yang sekali lagi akan segera melaksanakan PEMIRA 2019.  Mulai dari masalah hulu terkait sosialisasi, hingga ke hilir saat hari-H pelaksanaan.  Hal tersebut menjadi semakin berat, mengingat saat kampanye akbar saja partisipasi mahasiswa hanya segelintir, belum lagi yang ada di kampus Bondowoso dan Lumajang.

Rafi juga memaparkan bahwa selain kampanye akbar, akan ada acara utama lain yaitu debat kandidat.  Ia berharap mahasiswa Universitas Jember dapat memanfaatkan fasilitas tersebut dengan sebaik-baiknya.  “Untuk benar-benar memberikan pandangan kepada mahasiswa, siapakah pasangan calon yang mereka rasa mewakili mereka.” Jelas Rafi.

Sampai saat ini, (16/04/2019) pukul 16:39, berdasarkan informasi yang kami dapat dari Imron selaku ketua Panitia Pengawas Pemilu (PANWASLU), semenjak kampanye akbar hari Minggu kemarin, hanya pasangan calon nomor urut 1 Ardy-fauzan yang sudah melakukan kampanye di tempat lain, yaitu di kampus Bondowoso.[]

 

Penulis: Bagus

Editor: Endah Prasetyo

 

Leave a Reply